Thursday, November 29, 2007

Artikel

Sastra Pedalangan

Sastra pedalangan adalah rekabahasa dalang dalam pakeliran atau pergelaran wayang. Rekabahasa dalang tersebut adalah murwa atau pelungan, nyandra janturan dan pocapan, suluk, antawacana, sabetan, suara, tembang, lakon, dan mantra.

Murwa

Suluk pembuka pakeliran wayang, dalam pedalangan Jawa Timur dikenal dengan istilah pelungan, di Jawa Tengah dikenal dengan istilah ilahengan, dan di Jawa Barat dikenal dengan istilah murwa. Di bawah ini adalah contoh murwa pendek:
Kembang sungsang binang kunang
Cahaya nira kadya gilang gumilang
Sedangkan contoh murwa panjang seperti di bawah ini:
Adam adam babuh lawan
Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya
Dangiang wayang wayanganipun
Perlambang alam sadaya
Semar sana ya danar guling
Basa sem pangangen-angen
Mareng ngemaraken Dzat Kang Maha Tunggal
Wayang agung wineja wayang tunggal
Wayang tunggal
Nyandra

Nyandra adalah deskripsi adegan dengan menggunakan bahasa prosa pakeliran wayang. Ada dua jenis nyandra, yaitu janturan dan pocapan. Janturan adalah nyandra yang diiringi gamelan; sedangkan pocapan tidak diiringi gamelan. Di bawah ini adalah contoh nyandra gubahan Ki Harsono Siswocarito dari pedalangan Jawa Barat:

Contoh 1
Sinareng nira kenya pertangga, watri gumanti sang hyang latri kapundut ima-ima gambura kalawan ancala. Gambura itu awal, ancala di puncak gunung, si Walangtunggal pertanda cerita bertatahkan asta gangga wira tanu patra. Asta itu tangan, gangga itu air, wira itu mumpuni, tanu itu tinta, patra itu kata.

Kata dan tinta dibuat aksara wilanjana wilanjani. Wilanjana itu abjad aksara Ha, wilanjani itu abjad aksara Alip. Aksara Alip disebar di belahan Barat, menjadi aksara tiga puluh, Alip ba ta sa. Jangan menamatkan aksara Alip, bukan tempatnya meng-urusi aksara Alip. Melenyapkan aksara Alip, mengeluarkan aksara Ha. Aksara Ha disebar di belahan Timur, jatuh di taanah Jawa, dibuat aksara kalih dasa, kalih dua, dasa sepuluh, aksara dua puluh dibagi empat mazhab, yaitu:

Ha na ca ra ka itu timur, da ta sa wa la itu selatan, pa da ja ya nya itu barat, ma ga ba ta nga itu utara. Ha na ca ra ka itu yang memerintah, da ta sa wa la itu yang diperintah, pa da ja ya nya itu buruk hatinya, ma ga ba ta nga itu tidak bisa disebut. Aksara sudah mati di sebelah utara.

Melenyapkan aksara dua puluh, mengeluarkan lagi aksara, wulanjana wulanjani. Wulanjana itu si rama, wulanjani itu sir ibu. Sir rama jatuh ke dalam sir ibu, masuk ke dalam kenya puri. Kenya itu artinya wadah, puri yaitu artinya keraton.

Keraton mana yang menjadi pembuka? Keraton …… yang dipakai pembuka. Dasar negara panjang punjung pasir wukir loh jinawi. Panjang itu banyak dibicarakan, punjung itu luhur wibawanya, pasir itu samudra, wukir yaitu gunung, loh jinawi artinya kaya, tak kurang sandang dan pangan, intan berlian.

Siapa yang menjadi raja? Sang raja duduk di kursi gading gilang kencana bermahkota binokasri bertatahkan permata. Memakai gelung gono, gelung gongsor, kelat bahu kempal dada, menyandang keris kiai Jagapati, pendok berukir ketumbar semebar, amar-amaran-nya sutra kuning, sutra putih, sutra hitam, sutra merah, dodot gresik wayang.

Orang mendalang itu dora sembada, dora itu bohong, sembada itu pantas. Apa sebabnya menjadi pantas? Ada buktinya. Apa buktinya? Adanya wayang purwa. Wayang itu artinya bayangan, purwa itu permulaan. Hanya mengikuti alur terdahulu, merunut jejak lama, orang tua memulai, orang muda hanya melakukan.
Hanya bedanya wayang dahulu kala diganti dengan golek. Apa artinya istilah golek, disenggol matinya tergeletak, mendongkol matanya melek. Tapi kata golek menurut bahasa Jawa artinya cari. Cari apanya, cari asal-usulnya, sebab golek itu tidak berbeda dengan manusia. Hus gegabah golek sampai disamakan dengan manusia. Bukankah golek itu kayu, diukir, dicet menjadi boneka. Kenapa boneka bisa bicara sendiri dan hidup? Golek itu usik tanpa usik, gerak tanpa gerak, karena golek dibicarakannya itu oleh dalang. Tidak merasa menjadi dalang, merasa juga mendalang, mendalangkan. Mendalangkan apa? Mendalangkan katanya. Pembaca mau mencari hiburan, lumayan daripada ngantuk.

Gunung tanpa lereng tiada kera hitamnya. Yang panjang dibuat pendek, yang pendek diputuskan, sebat kang genjotan.
Contoh 2
SUH REP DATA PITANA! Terberitakanlah negara mana yang paling eka adi dasa nama purwa: eka satu, adi lebih, dasa sepuluh, nama julukan, purwa yaitu permulaan. Walaupun banyak mahluk yang menjulang ke angkasa, berdiri di bumi pertiwi, dikitari samudra, jauh dari malabencana, dasar negara Astina ibarat dalam tancapannya, luas wilayah-nya, besar apinya, tinggi asapnya, terang dunianya, tersebar kemashurannya. Penguasa yang menjadi presiden, yang mengelola negara, bernama Jendral Kurupati ya Jendral Duryudana, Jendral Gajahwaya, Jendral Limanbenawi, Jendral Destarataputra, sedang dihadap oleh Menteri Sakuni, Gubernur Baladewa, Bupati Karna, Prof Durna. Semua pada tunduk bak kuncim pertala muka mereka serta penuh tata krama para Kurawa karena terlalu takut kepada presiden. Semua khidmat menghadap, duduk mereka berjajar.
Contoh 3
Selayaknya ki pujangga, yang menceritakan masa purba, menggelarkan cahaya Nurcahya induk mahluk nata wilayat, Harut, Marut, dan ratu Banujan, Adam, Hawa, Sis, kang danu warih, Anwas dan Anwar, kang danu citra. Meng-gelarkan Nurcahya, Nurasa, Nursari, Nurjati, Sakuntu, Sakumbul, Parangawuyuh, Kanangsa, Manangsa, dan Manumangsa. Menggelarkan lagi Sanghyang Wetri, Sanghyang Letri, Sanghyang Tunggal yang membayang bayangan. Sanghyang Wenang yang mewenangkan rasa murni, Sanghyang Kuncung pemadu rasa. Semar sana danar guling, sem yaitu angan-angan, menyamarkan Dzat Yang Maha Suci, Sanghyang Rancasan yang membuat delapan surga.

Siapa yang menjadi ratu? Namanya Batara Guru. Batara yaitu pintar, guru yang memberi petunjuk manusia seluruh jagat. Namanya lagi Hyang Jagatnata, yaitu raja yang menjadi ratu manusia seluruh jagat. Namanya lagi Hyang Girinata, nata itu artinya ratu, giri artinya gunung, Apus gebang si walang tunggal. Namanya lagi Hyang Otipati, O artinya yang membedakan hidup dan mati.

Kuluknya kendali wuluh, kerudung sutra kemangi, tangannya empat dan singgasananya lembu Andana Andini. Lembu sana jagat wiat, lembu sini jagat muprat. Kuluknya penutup bayu, kerudung pelindung rasa, tangan empat pelengkap panca dria. Apa artinya panca? Panca itu lima, dria itu angan-angan, angan sejahtera semata. Dihadap kabayan dewa, dewa itu dirinya sendiri, kabayan itu utusan. Siapa yang mengutus, siapa yang diutus, namanya Batara Narada, artinya tidak ada.

Lampu wujud cahaya hidup, dalang itu wujud tunggal, wayang itu wujud birahi. Dalang yang menyurupi wayang, wayang yang disurupi dalang, dalang kini bukan dalang sejati yang berupa heksi.

Berpanyungkan langit tujuh, disaksikan empat arah, yaitu Utara, Selatan, Barat, Timur, namun depan, kiri, kanan, yaitu ayon sabitah.

Putus pertanda putus, genting pertanda genting, sekat kang genjotan.

Pocapan

Pocapan adalah nyandra yang tidak diiringi gamelan untuk menceritakan peristiwa dalam adegan. Di bawah ini adalah contoh pocapan dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya:
Padmanegara nyandak dua hulusapu bade dicipta ku Kresna. Atuh Kresna rep sidakep ana sinuku tunggal babakane caturdriya--catur papat, driya angen-angen, sir budi cipta kalawan rasa. Pangambung teu diangge ngangse; soca teu diangge ningal; cepil teu diangge ngarungu; baham teu diangge ngucap lir ibarat anu paeh ngadeg, nanging bentena pedah ngangge ambegan.
Nanging tadige manggahing nu Mahakawasa teu weleh nganter ka manusa rek hade rek goreng asal tanggel jawab dirina pribadi. Maksudna diduluran, maksadna diijabah. Ilang dua hulu sapu, janggelek dados ponggawa, anu hiji dados satria.
Suluk

Suluk adalah citra yang dinyanyikan oleh ki dalang dalam pakeliran wayang. Di bawah ini adalah contoh suluk dari pedalangan Jawa Barat.

Contoh 1
Saur nira tandana panjang
Sinenggih sabda ya uninga lawan
Sabda ya uninga lawan
Sauri nira tandana panjang sinengih
Sabda uninga wis mama
Ulun layu dening sekti ala bakti dening asih
Ya ding asih
Wong asih ora katara
Contoh 2
Betet ijo Kepodang ulese kuning
Abang manuke wulung kadya wowor
Sandang rawit puter gemeke ya lurik-lurik
Dadanira kinuwungan ya kinuwungan
Kadya bocah ngangge kakalung
Ningsor waringin wulung
Contoh 3
Sri tinon ing pasewakan
Busana manekawarna
Murub mubyar cahayanira
Kadya kunang-kunangan
Sri tinon ing pasewakan
Busana manekawarna
Murub mubyar socanira
Kadya parada tinabur
Kadya kunang-kunangan
Sekar wijaya kusuma lawan
Antawacana

Antawacana adalah dialog antar-tokoh wayang. Sedangkan antawacana antara tokoh wayang dengan nayaga, wirasuara, atau juru kawih dinamakan dialog samping (aside). Antawacana biasanya disampaikan setelah pocapan. Di bawah ini contoh dialog dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya:
KRESNA: Eladalah, Yayi, Yayi Setiaki.

SETIAKI: Kaula nun.

KRESNA: Kakang Patih Udawa.

UDAWA: Lo, lo, lo, Hahahah… pun kakang Patih Udawa.

KRESNA: Marajeng ka payun calikna.

SETIAKI: Ti payun anu kapihatur pun rayi nyanggakeun sembah pangabakti mugiya ditampi.

KRESNA: Sembah Rayi ditampi kudua panangan kiwa kalawan tengen, disimpen di luhur dina embun-embunan, di handap dina pangkonan, dicatet dina tungtung emutan anu teu keuna kuowah gingsir.

SETIAKI: Ngahaturkeun nuhun. Kalih perkawisna—

KRESNA: Kumaha, Yayi?

SETIAKI: Bilih aya kalepatan ageng sumawanten alit, agung cukup lumur, neda jembar hapunten anu diteda.

KRESNA: Perkawis kalepatan sok bujeng ku aya basana menta dihampura, sanaos teu aya basana akang parantos jadi lautan hampura kana kalepatan sampean, Yayi.

SETIAKI: Ngahaturkeun nuhun.
Sabetan

Sabetan adalah gerak wayang yang meliputi tarian, lakuan, dan lagaan. Tarian adalah gerak wayang yang diiringan nyanyian dan gamelan. Lakuan adalah gerak wayang yang hanya diiringan kecrek atau kendang. Sedangkan lagaan adalah gerak wayang dalam peperangan baik dengan iringan gamelan maupun hanya diiringi kecrek dan kendang.

Suara

Suara dapat berupa teriakan, jeritan, aduhan, tobatan, atau bunyi tiruan yang berupa onomatopia. Suara merupakan pelengkap sabetan lagaan. Di bawah ini adalah suara yang diambil dari lakonet Ki Harsono Siswocarito:
“E-e-babo-babo… Gog—ada p-penjelajah r-rimba Pringga-dingatala. S-siapa, Gog?
“Sst! Jendral Arjuna!”
“E-e-babo-babo… s-serbu!”—(Clap!)—“C-ciaat!”—(Dez! Zplak! Deb! Bugh!)—“Hugk-khoeekh uhuooo… m-mati a-aku, Gog!”—(Bruk!)
“Cakil mati, Lung!”
“Biarin saja, Gog!”
“Grr-babo-babo, keparat! Hadapi aku Dityakala Badai-segara! Heh, konco-konco: Pragalba, Rambut Geni, Padas Gempal, Jurangrawah, Buta Ijo, Buta Terong, Buta Endog—ayo keroyok si perwira keparat itu!”
“C’mon!” + “OK!” + “Move!”
“Satu, dua, tiga! Ciat! Ciat! Ciiaatt!”—(Blaarr!)—“Aduh! Ahk! Khk! Klk!”—(Blug! Blug! Blug!)
“Zuilah! Mampuz zemua!” + “Benal! Ayo lali, Mas!”
(Jleg!)—“Brenti!”
“Ziapa lu? O yez! Kenalin—gue Mr George! Yez, Mr Joz!”
“Busyet! Keren juga nih Buto—pake nama beken segala! Elu kalah, Reng.”
“Em… lu siape, Pelo?”
“Mistel Gabliel! Ayo pelgi ah! Usah ngulusin olang tak kaluan!”—(Bugh! Bugh!)—“Adow! Main pelmak lagi! Blantem-blantem, tapi spoltif! Ngawul’u!”
(Dor-dor!)—“Beres, Gong!”
Tembang

Tembang adalah nyanyian yang dilantunkan oleh pesinden, wirasuara, atau dalang. Tembang pembuka pakeliran dilantunkan olen pesinden. Tembang pengiring pakeliran dilantunkan oleh pesinden dan wirasuara. Tembang dalam adegan Limbukan dan Gara-gara dilantunkan oleh dalang yang berkolaborasi dengan pesinden atau bintang tamu. Di bawah ini adalh tembang pembuka dari pedalangan Jawa Barat:
Sampurasun dulur-dulur
Nu aya di pilemburan
Wilujeng patepang dangu
Ti abdi saparakanca
Ti abdi saparakanca
Gamelan Munggul Pawenang
Nyanggakeun hiburanana, Juragan
La mugiya janten panglipur
Pangbeberah duh kana manah
Sedangkan tembang berikut ini adalah yang dinyanyikan oleh dalang Dede Amung Sutarya dalam lakon Jaya Renyuan:
"Lagu Nu Ngusep"

Barung herang liar mijah
Clom kiriwil ari anclom ngagiriwil
Mawa epan rupa-rupa
Clom kurunyud lamun anclom sok ngurunyud
Plung kecemplung plung kecemplung
Empan teuleum kukumbul ambul-ambulan
Kenur manteng jeujeur jeceng
Leungeun lempeng panon mah naksir nu mandi
Kop tah lauk mere dahareun
Mangga mangga mangga geura tuang
Geura raos ditanggung deudeuieun
Mangga mangga ulah isin=isin
Empan cangkilu ungkul dilangkung
Empan papatong kalah dipelong
Ku epan colek kalah ngadelek
Lekcom lekcom panon belek nyambel oncom
Lakon

Lakon adalah laku dramatik dalam pakeliran wayang. Lakon-lakon wayang purwa bersumber pada Mahabarata, Ramayana, Serat Paramayoga, Serat Pustaka Rajapurwa, Serat Purwakandha,dan lain-lain. Lakon-lakon wayang madya dan wayang wasana bersumber pada cerita-cerita babad. Sedangkan lakon-lakon wayang wahyu bersumber pada Injil. Tentu saja masih banyak sumber-sumber lakon.

Mantra


Mantra atau sastra mantra pedalangan ada dua kategori. Pertama, mantra yang berupa doa ki dalang dalam penyelenggaraan pakeliran. Kedua, mantra yang berupa rapalan tokoh wayang dalam mengeluarkan kesaktiannya.

Contoh pertama berupa mantra pembuka pakeliran dari Mpu Tan Akung:
Ingsun Angidhepa Sang Hyang Guru Reka,
Kamatantra: swaranku manikastagina.
Contoh kedua berupa rapalan mantra penyirepan oleh tokoh wayang Indrajit:
Rep sirep si Megananda
Wong sarewu padha tumut
Salaksa wong serah nyawa
Sastra pedalangan tentu saja banyak ragamnya. Hal ini menunjukkan kebinekaan sastra pedalangan Indonesia. Ada pedalangan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Banjar, dan sebagainya. (Ki Harsono Siswocarito).

Gitadarma Dr Mintaraga


GITADARMA DR MINTARAGA


Kembang sungsang cahya kunang
Kadia lintang gilang gumilang
Tembang hyang pangreka dalang
Dadia piwulang wong ngawayang



MERCUKUNDA, SURALAYA.—Maharaja Tribuwana Sang Hyang Otipati Pramesti Guru Jagatgirinata ya Sang Hyang Manikmaya penguasa jagat pramudita duduk di atas tahta Dampar Kencana beralas permadani sutra berenda permata dihadap para dewa pemuka triloka.

GIRINATA: Kakang Panji Kanekaputra, kenapa petaka triloka belum jua reda? Malah terambah musibah. Batara pada susah, batari pada sedih; luka hapsara parah, duka hapsari perih. Ini mesti dipandegani, Kang Narada.

NARADA: Eladalah, Adi Guru—gawat! Cuaca seram-kelam, Candradimuka timbul tenggelam, para dewa tiada tentram, Tribuwana jadi terancam itu kerna balabuta utusan Jendral Niwatakawaca ditolak melamar Supraba. Mereka tak sudi kembali ke negeri Manimantaka jika tidak memboyong sang dewi. Begitu kan, Indra?

INDRA: Benar! Supraba menampik kasih menolak cinta Niwatakawaca. Aku sendiri tak sudi bermenantu dia. Khhkcuh! Mana bisa Buta bermertua Dewa? Durhaka!

GIRINATA: O jagat dewa batara! Dasar balabuta tak kenal etika. Kurangajar benar ia. Jika tak bisa diajar, hajar! Jika tak mau mundur, gusur! Jika malah memaksa, siksa! Usir mereka dari Suralaya.

NARADA: Baik, Gusti!—Bayu! Siapkan tentara triloka. Basmi balabuta Niwatakawaca!

BAYU: Siap!

“Batara Brama, Batara Surya, Batara Wisnu, Batara Bayu, Batara Sambu, Batara Kamajaya, Batara Yamadipati, Batara Kuwera, Batara Karaba, Batara Bermana, Batara Bermani, Batara Aswan, Batara Aswin, Batara Citragada, Batara Citrasena, Batara Sambodana, Batara Rawiatmaja, Batara Bermanakanda, Hyang Dewatama, Hyang Dewanggana, Hyang Dewasana, Hyang Dewangkara, Hyang Pancadewa, Hyang Pancaweda, Hyang Patuk, Hyang Temboro,—siap gerak!”

“Siap! Siap! Siap!—”


Bala Tribuwana
Pada siapsiaga

Bala buta
Pada laga

GERBANG SELAMATANGKEP.—Balabuta siap adulaga demi memaksa para dewa menyerahkan Supraba. Tatalaga Jendral Krudaksa, Panglima Manimantaka, tampak megadigdaya. Di sisi kiri berdiri Kolonel Duskerta; di sebelah kanan, Kapten Wirakta; dan di belakang, Letnan Kalawaktra.

KRUDAKSA: Krrkzuh! Dewa-dewa! Menolak cinta Gusti Niwatakawaca berarti meminta petaka. Jika Supraba tidak diserahkan, Kahyangan Solendrabawana akan kubuat kiamat! Bahkan Suralaya akan kurusakporak, leburmumur, dan sirna-binasa. Krrkzuh!

DUSKERTA: Betul! Usah sok dewa! Buta boleh berbini bidadari. Buat perbaikan keturunan! Biar buta tengik, bini cantik; biar Buta bau, bini ayu; biar Buta, bini Supraba. Kan asik! Hehehe….

WIRAKTA: Iya! Supraba emang moy. Dasar bidadari—cantik tak tersaingi, megajelita tiada cela! Oh, Supradin, eh, Suprana, haah! Salah mulu—Supra apa?

KALAWAKTRA: Walakadalah, Gusti! Lihat! Gapura terbuka! Para dewa angkat senjata!

KRUDAKSA: Keparat! Serbu!

“Serbu! Serbu! Serbu!—”


Serbu buta
Satru dewa

Berangtendang!
Serangterjang!

“Ayo maju, Dewa!”
“Brani ame Brama?”
“Brama? O, ini jago Deksinapati: Dewa api kok kakubeku? Ayo maju! Heaah!”—(Clap!)
Serbutinju (Bugh!) sepakporak (Blak!)—“Rasain dewa—heaah!”—(Blar!) tamparmemar! “Tobaatt!”


Tatu terhitung!
Luka terbilang!

“Mana jago dewa?”
“Bayu: ayo maju!”
Adutinju seru (Jduk!) serta sepakgalak telak (Jdak!)—‘Hgkh! Hoekh ooo hfuh! Buta gila! Membokong! Aduh… ooo! Tobaat!”—(Bruk!)
“Celaka, Surya!” + “Wisnu, mundur!”


Dewa tempur
Pada mundur

NARADA: Celaka, Adi Guru! Balabuta gagahmegadigdaya mahasakti mandraguna! Para dewa tak berdaya. Gemana ini?

GIRINATA: Tenang, Kang Panji! Indra, cari jago dewata. Pergilah ke Indrakila—temui Prof Mintaraga.

Indra: Baik, Gusti!

Batara Indra
Ke Indrakila

Pada madiacerita
Ketika gara-gara

KARANG KADEMPEL.—Kampung di punggung gunung berpayung lembayung. Cuaca Cerahmerah! Kubah bukit Indrakila tampak indahmegah! Terlantun senandung kidung dari dalam gubuk ijuk. Panakawan pada berwawancanda.

Gandasari buah ati
Pujaan urang sadaya
Buku pinuh kupapaes
Alus jadi patamanan

“Ahihi… Asmarandana Sunda! Oke jugalah. Ehm, nunggu bos lagi konsentrasi, kontemplasi, en meditasi—gini nih: aneh! Eh, kemaren digoda cewek Suralaya, ia cuek aja! Bidadari cantik tak ia lirik! Malah gua yang manatahan. Ahihi….”
“Gitu itu, Gong—prihatin: taparekacipta demi manggayuh karaharjaning praja mamayuayuning bawana.”
“Eh, Reng—ada apa?”
“Gawat! Babi di Lab!”
“Hah? Ayo kita liat!”


MINTARAGA: Ia kutembak!

PADYA: Aku, penembaknya!

SEMAR: Sudahlah, Indra!

INDRA: Hahaha… maaf, Ki Semar—saya menyamar dan menggoda Mintaraga demi Suralaya. Ia diminta menjadi jago dewata guna menumpastuntas balabuta Niwatakawaca. Gemana, Prof?

MINTARAGA: OK. Saya minta Jeng Supraba ikutserta.

INDRA: Baiklah.

Mintaraga segera
Menunaikan darma

Serang terjang
Perang kembang

RIMBAMALA.—Mintaraga aduyuda dengan bala Manimantaka.

“B-brenti! Siapa lo?”
“Gong, embat aja yo!”
“Siplah!”—(Duk! Bugh!) Ambruktakluk (Blug! Gludug!)—“Nih rasain! Hih!”—(Jplak! Gdubrak!)—“Aaawww!”
“Bah! Keparat! Kaladurga, Kaladurjana, Kaladuraksa, Kala-durmala, Kalastuwila, Kaladaksa, Kaladarba, Kalagarba, Kala-duskerta, Kaladusta, Kaladursila—majuserbu!”
“Reng, embat granat!” + “Okelah!”—(Plas!)


(BLAARR!)

Balabuta
Fanalaga

Dan tak lama
Supraba tiba

SUPRABA: Helo, Prof! Ngapain sih gue ikut? Gue takut ame Buta. Hiiyy… jijay!

MINTARAGA: Emansipasi! Ini kan sengketa cinta yang jadi konflik politik multipelik. Wanita cantik, asal cerdik, bisa men-jadi aset politik. Coba amati! Dengan dalih ditolak cinta, Niwa-takawaca hendak melabrak Suralaya. Resistensi libido menjadi agresi destrudo. Bahaya! Ia mesti ditembaktelak! Nah, biar buka rahasia, anda rayu ia—puji sampai kekihati, goda hingga lupalena, rajuk biar mabuktakluk!

SUPRABA: OK.

Bersama mereka
Ke Manimantaka

Gita asmara buta
Ala Niwatakawaca

MANIMANTAKA.—Seketika mukamurka Jendral Niwatakawaca tampak sukaria bersua dengan Supraba.

NIWATAKAWACA: Hait, Supraba! Huahahaha… akhirnya dikau datang, oh… Supraba, bidadari cantikmultisimpatik, gadis manislagiromantis, dara eloksemokmontok, perawan rupawan-nanmenawan, wanita jelitamahajuita, oh… Supraba, dilirik asik, dipandang senang, ditatap sedap, oh… Supraba, dari dulu aku rindu, sejak lama saya cinta, oh… Supraba, coba saya kurang apa? Maharaja, kayaraya, oh… Supraba, saya memang hmh! Dikau tau itu? Huahahaha….

SUPRABA: So pasti, Oom! Wow! Manimantaka indahmewah mahamegah serba raksasa! Nyesel gue gak dari dulu mau ame Oom. Huuh, papi sih, neko-neko! Maafin ya, Oom? Bener deh gue cinta ame Oom. Biar Buta, Oom raja, kaya, perkasa….

NIWATAKAWACA: Huahahaha… betul, oh… Supraba, siapa pun tak mampu mengungguliku! Aku tangguhplusampuh, saya hebatmahadahsyat, gua gagahmegadigdaya, oh… Supraba, kerna pintar merahasiakan kelemahan—

SUPRABA: Kelemahan apa?

NIWATAKAWACA: Lidah!

Rahasia terungkap
Pasopati menancap

Niwatakawaca
Sirnaperlaya



Semarang, 11 Maret 1993 Ki Harsono Siswocarito





Puja-pujiku hanya bagiNya
Pencipta semesta seisinya
Hormatku buat ki pujangga
Yang memahamuliakanNya

ASTINA.—Para Kurawa pada bicara bersama Jendral Bala-dewa, Presiden Mandura, membahas masalah petaka negara.

DURYUDANA: Dewan sidang yang mulia! Luapan samudra, musim hujan yang luarbiasa, hujanbadai, banjirbah, seolah mau menenggelamkan dunia, menjadi malabencana global. Apa hal ini juga menimpa negara Mandura?

BALADEWA: Iyo—sama! Malah beberapa daerah sudah lenyap dilahap luap samudra.

KARNA: Pun jua Propinsi Awangga! Nelayan jadi korban! Wisata bahari mati! Rusakporak di sana-sini.

DURYUDANA: Apa sebenarnya penyebab malabencana ini? Dan bagaimana cara mengatasinya?

SAKUNI: Maaf, Pak! Mungkin Prof Durna punya sumbangsih pemikiran otentik serta strategi pemecahan masalah yang jitu.

DURYUDANA: Benar, Prof Dur—silakan naik ke mimbar.

DURNA: Nah, hahaha… trims! Pakarakbar tak perlu berkoar di atas mimbar! Tut wuri handayani! Nah, hahaha… ketahuilah dewan sidang yang mulia—tak cuma Astina, Mandura, Awangga yang tertimpa malapetaka, malah sampai Bangladesh. Lebih mengerikan! Nah, secara teoritis—ada akibat, ada sebab! Semua mala hanyalah akibat dari suatu sebab. Samudra meluap, hujanbadai, banjirbah, malah gunung es di kedua kutub bumi pun mencair—itu semua kerna perbuatan manusia yang tak pernah peduli pada kelestarian lingkungnan hidup. Oknum tak bertanggungjawab!

BALADEWA: Krrk-cuah! Oknum keparat! Siapa, Prof?

DURNA: Menurut penelitian, itu semua akibat perbuatan si Antasena yang sedang bereksperimen di dasar samudra.

BALADEWA: Krrk-cuah! Laknat si Antasena!

KARNA: Apa maunya ia?

DURNA: Kerna ia Kasal Amarta, pasti punya tujuan politis. Demi kejayaan bangsa Pandawa! Ia mau menjadi penguasa samudra dan mengaku bergelar Sang Hyang Segara Rekayasa.

BALADEWA: Apa? Sang Hyang? Krrk-cuah! Edan! Si Antasena gila! Apa gelar itu ada dalam kitab, Prof?

DURNA: Ah, tiada! Semua pustaka telah dibaca. Pustaka Universitas Sokalima sampai Universitas Atasangin sudah saya teliti. Baik dalam kitab kuno model Tantu Panggelaran, Kitab Manik Maya, Kitab Paramayoga, Kitab Kanda, Kitab Sudamala, Kitab Nawaruci, Kitab Gatutkacasraya, Mahabarata, Ramayana, maupun kitab lain—tak ada gelar Sang Hyang Segara Reka-yasa. Sang Hyang gadungan! Palsu!

DURYUDANA: Jika begitu, gagalkan eksperimen si Antasena, tangkap dan adili!

SAKUNI: Jika Amarta melindungi?

DURYUDANA: Serbu!

“Setuju! Setuju! Setuju!” + “Ziplah!” + “B-beres!” + “OK!” + “Hidup Kurawa!” + “Hidup! Hidup! Hidup!…”



BALADEWA: Krrk-cuah! Tepat!

DURYUDANA: Baiklah, Jendral Baladewa—pimpinlah pasu-kan multinasional. Dan Letjen Karna harap memimpin pasukan Parakomando Astina.

BALADEWA: Siap!

KARNA: Siap!

“Pasukan Parakomando Operasi Samudra—siap gerak! Lapor: Dursasana, Dursala, Dursata, Durmuka, Durkarna, Dura-dara, Durwigata, Durmagati, Kartamarma, Kartipeya, Citragada, Citramarma, Citrakandala, Citrayuda, Citraksa, Citraksi, Aditya-ketu, Bimabahu, Dirgabahu, Dirgalacana, Dirgarama, Dreda-rata, Drepasastra, Drestahasta, Drepayuda Drepawarman,—siap bergerak!”
“Laksanakan!”
“Siap!”


Pertempuran samudra
Siapsergap Antasena

DASAR SAMUDRA.—Zona teritorial Amarta.

(BLAARR!)

“Krrk-cuah! Ranjo laknat!”
“Awas kapal slam!”


(BLAARR!)

ANTASENA: Hmh, Kurawa—jangan harap bisa mendobrak-porak hankam Amarta. Submarine Antaboga karyarekacipta Prof Dr Antaboga teramat handal. Aku Sang Hyang Segara Rekayasa lagi bereksperimentasi dalam Sea-Lab Oceanoculture demi masa depan bangsa. Siapa pun tak boleh masuk ke dalam Sea-Lab ini.

Gara-gara
Bumi gapai
Laut badai


TUMARITIS.—Dalam dukamala dunia, Panakawan pada berwawancanda.

“Excuse me, I’m Petruk Swayze. Dear Readres—how are you today? Fine? OK, so am I. Hehehe… ceritanya hujan nih: basah, bocor, becek! Ehm… Yun, Ren, Sis—ngapain? Ngeceng melulu! Kapan mejeng lagi di Matahari? Gantian! Ngampus kek, hehehe… gemana tuh Wayang Kampus ? Hura-hura aje! Bilangnya: aktivis! Ngilmiyah kek, hehehe… gak nyeni ah!”
“Omong ame siape, Truk?”
“To my fans, of course!”
“Huh, sok top! Sok pop!”
“Hehehe… emang kok! Eh, Gareng mana? Bang, si Gareng Mbeling udah dibikin belon? Cepet buru dimainin! Kan mau show—jangan cuma Bagong yang in action. Bosen!”
“Sentimen lu, Truk!”
“Harus! Nah, itu Gareng! Sini, Reng! Where’re ye from?”
“Show-biz!” + “Show off!”
“Zow, ngerti? Gak kaya lu: ngeceng melulu. Gak laku-laku!”
“Enak aje! Di sono gue observasi: meneliti perilaku budaya konsumerisme demi antisipasi bisnis masadepan. Kan asik!”
“O dasar Bagong Urban!”
“Udah! Pak Jun datang!”



ARJUNA: Kang Semar—Laksamana Antasena mesti dicari. Lama dia tak melapor ke Amarta.

SEMAR: Mari, Pak.

Arjuna dan Panakawan
Menembus jalan hutan

“E-e-babo-babo… Gog—ada p-penjelajah r-rimba Pringga-dingatala. S-siapa, Gog?
“Sst! Jendral Arjuna!”
“E-e-babo-babo… s-serbu!”—(Clap!)—“C-ciaat!”—(Dez! Zplak! Deb! Bugh!)—“Hugk-khoeekh uhuooo… m-mati a-aku, Gog!”—(Bruk!)
“Cakil mati, Lung!”
“Biarin saja, Gog!”
“Grr-babo-babo, keparat! Hadapi aku Dityakala Badai-segara! Heh, konco-konco: Pragalba, Rambut Geni, Padas Gempal, Jurangrawah, Buta Ijo, Buta Terong, Buta Endog—ayo keroyok si perwira keparat itu!”
“C’mon!” + “OK!” + “Move!”
“Satu, dua, tiga! Ciat! Ciat! Ciiaatt!”—(Blaarr!)—“Aduh! Ahk! Khk! Klk!”—(Blug! Blug! Blug!)
“Zuilah! Mampuz zemua!” + “Benal! Ayo lali, Mas!”
(Jleg!)—“Brenti!”
“Ziapa lu? O yez! Kenalin—gue Mr George! Yez, Mr Joz!”
“Busyet! Keren juga nih Buto—pake nama beken segala! Elu kalah, Reng.”
“Em… lu siape, Pelo?”
“Mistel Gabliel! Ayo pelgi ah! Usah ngulusin olang tak kaluan!”—(Bugh! Bugh!)—“Adow! Main pelmak lagi! Blantem-blantem, tapi spoltif! Ngawul’u!”
(Dor-dor!)—“Beres, Gong!”


Buta-buta mala
Pada sirnafana
Gentur tutur
Bangun catur

SEA-LAB OCEANOCULTURE.—Laksamana Antasena yang bergelar Sang Hyang Segara Rekayasa menggegerkan dunia berkat penemuan Sistem Hankam Dasar Samudra, serta Oceanomigration demi mengatasi masalah kepadatan pen-duduk masadepan dengan merekacipta Gedung Pencakar Laut. Eksperimentasi fantastik semodel itu menyebabkan pro dan kontra di seluruh penjuru dunia. Tidaklah gaib-ajaib jika Girinata, Presiden Sorgaloka, turun tangan.

GIRINATA: O Jagat Dewa Batara! Antasena—hentikan eksperimen itu! Usah mendahului karsa! Dan lepaskan gelar Sang Hyang yang kau sandang.

ANTASENA: Maaf, tidak bisa! Eksperimen bukan sekedar sok cendekia. Gelar bukan gagah-gagahan! Ini demi kehidupan.

GIRINATA: Babo-khhk-cuah! Kurang ajar! Apa kau tak takut pada pasukan multisemesta dari Jagat Triloka?

ANTASENA: Maaf, Tuan! Tidak!

GIRINATA: Keparat! Tangkap!

“Siap! Indra, Bayu, Brahma, Wisnu, Surya, Sambu, Kama-jaya, Yamadipati, Temboro, Trembuku—sergap si Antasena!”
“Siap! Siap! Siap! Siap!”
(BLAARR!)
“O Jagat Dewa Batara!” + “Mundur! Bayu Mundur!”
“Bergenzong-pada-ndoyong, si Antasena tak tertaklukkan! Benar-benar adidaya ia! Celaka! Ini urusan Ki Semar, Tuan!”
“Tuh Ki Semar datang!”



SEMAR: Ada apa, Tuan? Bakutempur sama Pak Antasena rupanya. Maaf, Maha Sang Hyang! Demi pranata alam—Sang Hyang Segara Rekayasa sebenarnya bergerak atas kuasa Sang Hyang Wenang. Nah, Pak Antasena—tugas telah sampai! Wenang mencipta, Wenang merekayasa, Wenang memelihara. Bukankah begitu, Maha Sang Hyang?

“Soal LBH—romo pakarnya!”
“LBH itu apaan sih, Truk?”
“LBH: Lakon Bangsa Hyang.”



SANG HYANG WENANG: Ki Semar benar! Manggayuh karahar-janing praja, memayu-hayuning bawana.

Petik bunga guna
Intisari merdeka



Semarang, 28 Mei 1991 Ki Harsono Siswocarito

Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya




Kelirbeling tabir Gusti
Tabire ya wong ngawayang
Wayang manut maring dalang
Dalange murba ing wayang
Kelire layarmaya Gusti


MERCUKUNDA, SURALAYA.—Sang Hyang Pramesti Guru Jagatnata, ya Sang Hyang Otipati Penguasa Jagat Triloka, duduk di atas singgasana Kursi Gading Gilang Kencana, dihadap para dewa, para batara, para sang hyang, para bidadara, para hapsara seluruh warga Sorgaloka.

JAGATNATA: Kakang Panji Narada, Kang—sesungguhnya apa yang terjadi di Kahyangan ini? Magma Candradimuka ber-golak, lava menggelegak, gempa berderak, Gerbang Selama-tangkep retak, Istana rusakporak. Prahara apa ini, Kang Panji?

NARADA: Aduh, Adi Guru—ampun seribu ampun. Ini semua gargara balamala raksasa dari negeri Tunggulwesi yang dipimpin oleh Jendral Nurkala Kalimantra. Dia meminta tahta surga. Begitu Gusti Pramesti.

JAGATNATA: O jagat dewa batara! Betapa lancang ia. Kenapa tidak dicekal?

NARADA: Sudah, Adi Guru—Cingkarabala dan Balaupata berhasil membendung balamala raksasa itu dengan menutup Gerbang Selamatangkep. Dan kini mereka berada di padang Repatkepanasan. Untuk tindak-lanjut kami menunggu petunjuk Adi Guru.

JAGATNATA: Jangan dibiarkan mahluk itu menginjak-injak Kahyangan. Suruh pergi! Usir! Bila perlu basmi!

NARADA: Baik, Gusti! Permisi—Indra!

INDRA: Siap!

NARADA: Siapkan seluruh kekuatan tempur Suralaya Demi membasmi balamala Nurkala Kalimantra.

INDRA: Siap!

“Para dewa siap bertindak: Batara Brama, Batara Wisnu, Batara Surya, Batara Bayu, Batara Kamajaya, Batara Sambu, Batara Kuwera, Batara Yamadipati, Batara Aswan, Batara Aswin, Batara Bermana, Batara Bermani, Batara Bermana-kanda, Batara Citragada, Batara Citrasena, Batara Sambodana, Batara Rawiatmaja, Batara Karaba, Hyang Patuk, Hyang Tem-boro, Hyang Dewanggana, Hyang Dewasana, Hyang Dewang-kara, Hyang Sanggana, Hyang Pancadewa, Hyang Pancaweda, Hyang Dewatama,—”
“Siap! Siap! Siap! Siap!—”

Siapsiaga para dewa
Basmi mala Triloka!

Buta-buta mala
Bala pada laga

REPATKEPANASAN.—Jendral Nurkala Kalimantra menanti dalam benci, menunggu penuh nafsu.

KALIMANTRA: Grrrk-cuah-huahaha… e, e, bojleng-bojleng iblis najis pada bengis! Mana si Jagatnata? Pasti sembunyi di ketiak bidadari! Takut padaku! Huahaha… model begitu patut maharajadiraja para dewa? Turun tahta sajalah, Jagatnata! Serahkan padaku! Jika tidak, Suralaya kubuat kiamat dahsyat!

KALAMURKA: Tobat, Gusti—lihat! Gerbang Selamatangkep terbuka. Para dewa menyatakan perang!

KALIMANTRA: Grrrk-cuah! Laknatkeparat! Serbu!

“Serbu! Serbu! Serbu! Serbuuu—”
Buta maju
Menyerbu!

Berang! Garang!
Buta menyerang!

“Lu brani ame dewa?”
“Why not? Lu jago, gue jago! Lu jantan, gue jantan! Buktikan: siapa lebih jantan, siapa paling jagoan!”
“Khhk-cuah! Buta edan!”—(Clap!)—“Ciiaatt!”—(Jder!)
Serbu tinju seru!
(Bet!)—“Hih!”—(Dez! Dig! Bugh!)—“Hegkh!”—(Bruk!)
“Ayo bangun, Dewa!”
“D-du-uh… tob-ba-at….”
Sepak telak! (Brak!)—“Aakkhh!”
Tanpa kutik lagi ia mati suri.
“Brama kalah! Bayu mundur!”
“Para dewa mundur! Mundur!”
“Mundur! Mundur! Mundur!—”

NARADA: Celaka! Para dewa kalah digdaya. Wisnu!

WISNU: Yes, Sir!

NARADA: Maju!

WISNU: Siap!

“Nurkala Kalimantra! Hadapi aku Batara Wisnu!”
“Siapa? Wisnu? Ayo maju—mana jago dewa? Grrrk-cuah! Lho kok tidur? O tiarap! Ngapain, Wisnu?”
“Usah tanya mala! Rasakan rudal Cakra—mampus jiwamu!”—(Wuzz! Clap!)
(Krep!)—“Huahaha… rudal model beginian sih mana mempan!”—(Pluk! Ccss!)
“Edan! Mejen, Wisnu!”
“Aduuhh celakaaa—”
“Lari! Lari! Lari!”

Dewa tawur
Pada mabur

NARADA: Aduh, Adi Guru—celaka! Para dewa tiada daya; para hyang tiada menang. Bagaimana sekarang, Adi Guru?

JAGATNATA: Kakang Panji Narada harap segera membumi demi mencari jago dewata—lelaki langit jejaka jagat!

NARADA: Baik, Adi Guru!

Kala tiba gara-gara:
Pertanda madiacerita

KARANG KABOLOTAN.—Desa luar kota. Dusun buhun. Dukuh jauh sentuh. Terpencil! Di tengah huma, di sebuah lereng, di lengkung gunung, ada sebuah gubug beratap ilalang. Itulah rumah Ki Semar Badranaya beserta para putra Panakawan Amarta. Tanpa polusi kota, mereka bahagia. Hidup penuh candaria.

Lir ilir, lir ilir
Tandure wus sumilir

“Anu, Truk—sinilah! Bawa golok dan bambu.”
“Buat apa?
“Buat api! Biar anget: sore—kabut mulai turun. Eh, Bagong mana?”
“Entah! Cari babi, ‘kali? Cuaca begini: banyak kutu-jagung hama huma.”
“Lha, Romo—ke mana?”
“Nunggu Pak Jun!”
“Di puncak bukit?”
“Ho-oh, brrr… dingin!”
“Ni bakar jagung!”
“Ah, bosan! Suasana begini: kangen kekasih! Hehehe….”

Cinta, ia dipuja
Rindu, ia diburu

“Indah, kasihku!”
“Juilah!”

SEMAR: Gemana, Pak Jun?

ARJUNA: Parasut Tunggulnaga penyelamat rudal Ardadedali memang jatuh di bukit ini. Lihat, ini dia! Untung tidak meledak bersama pesawat tempur pengangkut Ardadedali yang di-tembak jatuh musuh.

SEMAR: O, o, o.

ARJUNA: Kini, mari ke Indraprasta. Semoga kanda Yudistira pun sudah menemukan kembali pusaka negara Kalimasada.

SEMAR: Mari, Pak.—Le, ayo kita ke kota!

“Nah!” “Beres, Mo!”
“Buru, Gong. Kota!”
Turun gunung Arjuna
Rambah belantararaya

Cekal Cakil
Si Butajail

MARGASOPANA.—Jendral Arjuna dan Panakawan menghadapi penodongan.

“Brenti! S-stop! S-siapa nama? M-mau ke mana? D-dari mana? Lima ribu! Cepat!”
“Elho! Nodong?”
“Hantam, Gong!”
(Jduh!)—“Ghk!”
“Pragalba, Rambutgeni, Galiuk, Bita Terong—maju serbu!”
“Siap!” “Beres!” “Szip!” “O’eh!”—(Jlap! Jlap! Jlap!)—“Awas!”—(Klik!)—“Hiiaa!”—(Dreder-der...!)—“Mampus lu!”
“Hehehe… Buto bego!”

Buta-buta pada sirnaperlaya
Lalu Arjuna Bersua Narada

NARADA: Eladah… bergenzong anak wong bakal doboyong! Kebetulan, Jun—ketemu. Jua Ki Semar, hahaha… apa kabar?

SEMAR: Kabar kabur! Eh, Nar—dewa kok keluyuran? Di Kahyangan kurang kerjaan, ya?

NARADA: Aduh, Ki Semar—ketahuilah…. Kahyangan geger! Suralaya diserbu balamala Nurkala Kalimantra. Dewa kalah, parah, pasrah! Bidadari pada resah! Aku diutus mencari jago dewata di bumi ini. Begitulah, Ki Semar.

SEMAR: O, o, o… siapa tadi? Nurkala Kalimantra! Pantes! Dia masih satu silsilah dengan raksasaraja Kalimataya penyerbu Suralaya yang ditumpastuntas oleh mahapakar nuklir Prof Manumayasa. Saat ini tiada jago dewata kecuali Arjuna.

NARADA: Baik, Ki Semar! Gemana, Jun?

ARJUNA: Siap!

Buru Arjuna menuju
Suralaya malasatru

Ia luka. Mati!
Tan dukahati!

REPATKEPANASAN.—Rudal Ardadedali menembak telak Nurkala Kalimantra. Meledak!

“Kalimantra mati!”
“Hidup Arjuna!”

Kalimantra meniada
Kalimasada mengada


Semarang, 12 November 1991 Ki Harsono Siswocarito

Prof Dr Bima Tanayatatwa

Anjrah kang puspita rum
Kasliring samirana mrih
Sekar mekar manekawarna
Maweh bebungahing driya


ASTINA.—Rektor Universitas Negeri Sokalima Prof Dr Durna, Dirjen Dikti Prof Dr Krepa, dan Mendikbud Prof Dr Bisma menghadap President Duryudana.

KREPA: The Yang Mulia Bapak Presiden Duryudana, Bapak Mendikbud Prof Dr Bisma yang terhormat, Bapak Rektor UNS Prof Dr Durna yang tercinta, serta para tokoh Kurawa yang kusukai—selamat pagi! Dalam kesempatan ini kami sengaja menghadap Bapak Presiden demi melaporkan adanya Perguruan Tinggi Swasta Mandiri, Universitas Bayupitu, di Kurusetra, yang direktori oleh Prof Dr Bima Tanayatatwa. PTSM itu menjadi rival berat PTN Astina. Begitu kan, Prof?

DURNA: Benar! Bahkan lebih dari itu, PTSM jadi ancaman bagi stabilitas nasional Astina kerna telah menjadikan kampus sebagai ajang bisnis dan politik praktis.

BISMA: Hmh! Tak etis kampus jadi ajang bisnis. Bisa pelik jika kampus jadi ajang politik.

DURYUDANA: Sebahaya itukah, Prof Dur?

SAKUNI: Prof Dur! Prof Dur! Melamun! Gaji naik masih murungrenung, getirpikir, suntrutkusut melulu. Hehehe… ada masalah pribadi ya, Prof?

DURNA: Ah, Pak Kun bisa aja. Durna sudah bersihdiri dari kepentingan pribadi atau famili demi negeri. Bukan demi gaji! Hidup Durna diabdibaktikan demi kemajuan pendidikan. Hasilnya tak sia-sia—Sokalima mampu mencetak kopral sampai jendral, ketua RT sampai direktur PT, baik pejabat, birokrat, teknokrat, maupun konglomerat. Namun, ya ampun! Haruskah kini PTN elite Astina hancur mundur? No way! Lebih baik PTSM itu ditutup! Berbahaya!

KARNA: Maaf, Pak! Pendidikan adalah hak azasi manusia. Lagi pula, Universitas Bayupitu berdiri di wilayah Amarta.

BALADEWA: Heh, Karno! Karno! Usah lancang! Kau jadi gubernur berkat memo Bapak Pres Dur! Jadi pejabat berkat memperalat istri! Naik pangkat berkat katebelece mertua! Mau bertingkah! Krrk-cuah! Tak tahu diri!

SAKUNI: Hehehe… Astina tidak mengakui kedaulatan Amarta. Kepentingan Kurawa di atas segalanya! Pak Karna harap mafhum.

DURNA: Nah, hahaha… tepat! Lebih jauh, dampak PTSM telah melahirkan jenis profesor slebor, lektor door to door, asisten impoten, ilmuwan asongan, akibat pahitpailit sepi duit jauh doku. Lantaran tiada lagi bonus panitia, uang jaga, dan duit koreksi ujian negara; tiada lagi duit-oli akreditasi! Nah, hahaha… gitu kan, Prof Krepa?

KREPA: Ya! Biar credit point penuh, credit coin selalu butuh.

DURYUDANA: Baik! Tutup Bayupitu! Bubarkan! Bila perlu hancurkan!

DURNA: Nah, hahaha… acc!

DURYUDANA: Kapten Karto, kontek Angkatan Perang Astina!

KARTAMARMA: Siap laksanakan!

“Divisi Banjarjumut, Divisi Banyutunalang, Divisi Bana-keling, Divisi Ujunglautan, Divisi Awangga, Divisi Mandraka, Divisi Mandura—siap bergerak!”
“Laksanakan!”

Siaptegap sang Dursasana
Panglima pasukan Astina!
Kurawa menyerbu kampus
Mahasiswa bikin mampus

UNIVERSITAS BAYUPITU, AMARTA.—Rektor Prof Dr Bima Tanayatatwa mengundang Prof Bayu Kanetra pakar pithe-coidology, Prof Bayu Maningrat pakar deusoidology, Prof Bayu Pulasia pakar gigantoidology, Prof Bayu Estibanda pakar monsteroidology, Prof Bayu Maruta pakar austroculture, Prof Bayu Baruna pakar oceanoculture, dan Prof Bayu Maenaka pakar neoculture.

BIMA: Para Profesor yang terhormat! Apakah saudara-saudara menyesalkan tindakan pasukan Kurawa?

KANETRA: Tentu! Tapi anggap saja itu dagelan. Toh kita mampu mempertahankan diri.

PULASIA: Huahaha… benar! Serbuan itu tiada arti bagi biomacrobot karyarekayasaku.

ESTIBANDA: Pun jua monsterobot masadepan mampu memporakporandakan itu pasukan.

MANINGRAT: Dasar Kurawa! Wayang picisan begitu rupa berani jual gaya. Berlaga! Khhkcuah!

MARUTA: Perlu dikasih pelajaran, Prof! Biar nyaho!

BARUNA: Betul! Emangnya ilmu pengetahuan cuma ada di Universitas Negeri Sokalima, teknologi cuma ada di Universitas Talkanda? Sombong!

BIMA: Baiklah! Tindakan militer Astina perlu dituntut. Siapkan pasukan tempur biomacrobot dan monsterobot buat menyerbu Astina.

PULASIA: Baik!

ESTIBANDA: OK!

“Divisi Gigantoid, Divisi Monsteroid, serta Divisi Pithe-coid—siap berangkat!”
“Lakukan!”

Serdadu buatan bergerak
Penuh kekuatan menembak
Huru-hara
Gara-gara

TUMARITIS, DESA DADAPAN.—Panakawan pada bercanda.

“Helo, Frens—ahihi… ogut Bagong! Okap kokab? Sip! Rin, Nur—gimokan yudisium? Hebring-hebring so pasti! Ahihi… mane sih ba’ang Petruk? Sokin dong!”
“Hehe… mudik ngurban ya, Gong? Pake mrokem segala! Neko-neko! Biasa manggil kang, malah njangkar, kini ba’ang.”
“Lho kok nepsong?”
“Bukan sewot! Pake bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika mau berbahasa Inggris pun pake yang baik dan benar.”
“Prex! Sok ahli! Sok linguis! Emangnya ogut orang kur-susan. Tau gue gak katam es-de pake diguruin. Cuih! Biar salah asal indah. Bikin kesalsebal aje!”
“Hehehe… Gong, usah melotot, ntar copot tuh mata.”
“Biarin!”
“Lu tau, Gong? Sugih teknik miskin kritik itu bukan seni yang baik. Tulisan kaya gaya tanpa idea bukanlah sastra.”
(Duuut!)
“Phuah! Kentut lu!”

Yu yus tu bi mai parti dol
Bat now yu sey de parti’s oper

“Gareng lagi sok rock, gak faseh aje pake ngoceh.”
“Huaha… Yeah! K’yu.”
“Ude—de bokaps kams!”

SEMAR: Mari melacak jejak Pak Bima. Kemana perginya dia, Pak Jun?

ARJUNA: Entah, Pak Semar.

Panakawan dan Arjuna
Merambah jalan rimba
Raksasabala kagiri-giri
Malasatru sang paraguru

RIMBA PRINGGACALA.—Di tengah hutan Jendral Arjuna dan Panakawan menghadapi pencegatan dan perampokan.

“L-liat, Lung! A-ada m-mangsa, ayo dibom, Gog!”
“Ko’e! Eh, sst! Awas itu
gajah Pandawa.”
(Jleg!)—“Brenti!”
“Hmh, siapa kau?”
“Heh, m-masa
k-kau tak k-kenal tokoh se-s-sebeken Cakil? J-jangan bacut!—(Dor!)—“Aakkhh…
mokat go’ut, Gooog!”
“Hah, Cakil ko’it! Bodat! Lelaki cantik brani ngaksi.
Brokis! Gua caw lu—hiiaatt!”—(Gusrak!) + (Jdak!)—“Aduh! Benjut gua… aduuhh.” +
“Awas Bragalba!”—(Dor!)
“Nuuh, Mrangalma ngo’it! Nyangil ngonyor! Ngawat
nih—la’i, Ngoog!”—(Pletak!)—“Anuh! Ngo’it angu!”—(Buzrak!)
“Ahihi… Truk,
habis tuh Buta GPK.”
“Hehehe… culun sih!”
Buta-buta ribut
Semua pada maut
Dalam rimba Arjuna
Bertemu Prof Durna

DURNA: Nah, hahaha… kebetulan kita bersua, Jendral Juna.

ARJUNA: Lho! Prof Dur mau ke—?

DURNA: Gawat, Pak Jun! Saya pergi dari Sokalima kerna ada kudeta di Astina. Pres Dur digusur! Kurawa pada kabur!

ARJUNA: Siapa pelakunya?

DURNA: Tentara buatan—serdadu biomacrobot dan monsterobot dari Divisi… ah, apa namanya? Pokoknya itu semua produk Universitas Bayupitu. Tolonglah, Jendral Juna—selamatkan almamater.

ARJUNA: Baik! Pak Semar—mari ke Astina.

SEMAR: Mari, Pak! Ayo, le!

“Oke!” + “Yo’e!” + “Asoy!”

Buru-buru Arjuna
Menuju ke Astina
Geger Bayupitu
Geser Balakuru

ASTINA.— Arjuna menghadap Prof Dr Bima Tanayatatwa.

ARJUNA: Maaf, Prof Bima—tindakan ini terlalu berani dan melancangi kebijakan Pandawa. Atas nama bangsa Pandawa, kumohon pemerintahan Kurawa dipulihkan.

BIMA: Hmh, OK! Asal Regime Kurawa tidak merongrong hak otonomi Universitas Bayupitu. Di samping itu, kamu cari dulu Jendral Bratasena yang diculik dan ditenggelamkan di tengah lautan oleh Mariner Astina.

ARJUNA: Hah? Jadi, Jendral Bratasena diculik Kurawa! Aduh, gemana, Pak Semar?

SEMAR: Em-em-em, ahahaha… usah kuatir, Jendral. Tan samar pamoring suksma anuksma, Prof Dr Bima Tanayatatwa inilah Jendral Bratasena. Dan Prof Bayu Kanetra adalah Prof emiritus Kapiwara dari Universitas Kendalisada, alias Jendral Purnawirawan Anoman.

BIMA: Benar kamu, Mar!

Dan jiwabesar Semar
Maweh obor profesor

Semarang, 31 Juli - 6 Agustus 1991 Ki Harsono Siswocarito