Friday, September 25, 2009

Konsep Estetik Lakonet

video

Pendahuluan

Murwa di atas dikutip dari situs http://wayangcitra.blogspot.com, sebuah situs wayang di duniamaya yang diasuh oleh Ki Harsono Siswocarito, sejak November 2007. Situs ini menyajikan genre-genre baru wayang, yaitu lakonet, wayang visual, wayang digital, wayang grafis, wayang animasi, dan wayang interaktif. Namun dalam tulisan ini genre yang akan dibahas hanya lakonet, terutama yang bersangkutan dengan konsep estetiknya.

Yang dimaksud dengan konsep estetik lakonet dalam judul tulisan ini adalah gagasan-gagasan tentang keindahan yang terdapat dalam lakonet. Sedangkan yang dimaksud dengan tegangan antara tradisi dan inovasi adalah konsep estetik yang mengacu pada gagasan-gagasan keindahan tradisional dan gagasan-gagasan keindahan pembaruan.

Pengertian Lakonet

Lakonet adalah gabungan dari kata "lakon" (cerita wayang) dan kata "net" (Internet). Istilah ini dibuat oleh Ki Harsono Siswocarito untuk menamai lahirnya sebuah genre baru wayang yang dipublikasikan di Internet. Lakon adalah genre sastra wayang lampahan untuk pertunjukan, sedangkan internet adalah mediamaya online yang terhubung secara global. Dengan demikian, lakonet adalah lakon yang dipertunjukkan dalam mediamaya internet.

Konsep Estetik Lakonet

Konsep estetik lakonet merupakan tegangan antara tradisi dan inovasi. Dengan demikian, lakonet mengacu pada konsep estetika tradisional dan estetika inovatif. Secara tradisional, konsep estetik lakonet sebagai sebuah genre baru wayang mengacu pada sastra pedalangan. Namun secara inovatif, konsep estetik lakonet bersitegang dengan tradisi tersebut untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Tegangan antara tradisi dan inovasi inilah yang menjadi landasan konsep estetik lakonet.

Sastra Pedalangan

Sastra pedalangan adalah rekabahasa dalang dalam seni pertunjukan wayang. Sastra pedalangan terdiri dari murwa atau pelungan (suluk pembuka pedalangan), nyandra janturan (deskripsi jejer adegan pertama) dan pocapan (narasi adegan), suluk (puisi padalangan), antawacana (dialog wayang), sabetan (bahasa tubuh wayang), suara (bunyi, celotehan, dan onomatopi), tembang (nyanyian), mantra (puisi magis), dan lakon (cerita wayang).

A. Murwa


Murwa adalah suluk pembuka dalam pertunjukan wayang. Pedalangan Jawa Timur menggunakan istilah pelungan; pedalangan Jawa Tengah menggunakan istilah ilahengan; dan pedalangan Jawa Barat menggunakan istilah murwa. Di bawah ini adalah contoh murwa pendek pedalangan Jawa Barat.

Kembang sungsang binang kunang

Cahaya nira kadya gilang gumilang

Murwa panjang di bawah ini berasal dari tradisi pedalangan Jawa Barat, yang versi audionya disitir dari lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya.

Adam adam babuh lawan
Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya
Dangiang wayang wayanganipun

Perlambang alam sadaya

Semar sana ya danar guling
Basa sem pangangen-angen
Mareng ngemaraken Dzat Kang Maha Tunggal
Wayang agung wineja wayang tunggal
Wayang tunggal


video

Dalam lakonet Ki Harsono Siswocarito, murwa yang berasal dari sastra pedalangan dimodifikasi menjadi bentuk baru. Di bawah ini adalah contoh-contoh murwa dalam lakonet-lakonetnya.

Langit kelir tabir Gusti
Tabire ya wong ngawayang
Wayang manut maring dalang
Dalange murba ing wayang
Kelire ayon sabita Gusti

Dan

Puja-pujiku hanya bagiNya
Pencipta semesta seisinya
Hormatku buat ki pujangga

Yang memahamuliakanNya

Dan juga

Dene utamaning nata
Berbudi bawa laksana

Dene utamaning praja
Adilmakmur paramarta

B. Nyandra


Nyandra adalah deskripsi adegan dengan menggunakan bahasa prosa dalam pertunjukan wayang. Terdapat dua jenis nyandra: janturan dan pocapan. Janturan adalah deskripsi adegan dengan iringan gamelan; dan pocapan adalah narasi adegan tanpa iringan gamelan. Dengan mengacu pada pedalangan Jawa Barat, Ki Harsono Siswocarito memodifikasi janturan dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.


1. Contoh Janturan

Sinareng nira kenya pertangga, watri gumanti sang hyang latri kapundut ima-ima gambura kalawan ancala. Gambura itu awal, ancala di puncak gunung, si Walangtunggal pertanda cerita bertatahkan asta gangga wira tanu patra. Asta itu tangan, gangga itu air, wira itu mumpuni, tanu itu tinta, patra itu kata.


Kata dan tinta dibuat aksara wilanjana wilanjani. Wilanjana itu abjad aksara Ha, wilanjani itu abjad aksara Alip. Aksara Alip disebar di belahan Barat, menjadi aksara tiga puluh, Alip ba ta sa. Jangan menamatkan aksara Alip, bukan tempatnya mengurusi aksara Alip. Melenyapkan aksara Alip, mengeluarkan aksara Ha. Aksara Ha disebar di belahan Timur, jatuh di taanah Jawa, dibuat aksara kalih dasa, kalih dua, dasa sepuluh, aksara dua puluh dibagi empat mazhab, yaitu:


Ha na ca ra ka itu timur, da ta sa wa la itu selatan, pa da ja ya nya itu barat, ma ga ba ta nga itu utara. Ha na ca ra ka itu yang memerintah, da ta sa wa la itu yang diperintah, pa da ja ya nya itu buruk hatinya, ma ga ba ta nga itu tidak bisa disebut. Aksara sudah mati di sebelah utara.


Melenyapkan aksara dua puluh, mengeluarkan lagi aksara, wulanjana wulanjani. Wulanjana itu si rama, wulanjani itu sir ibu. Sir rama jatuh ke dalam sir ibu, masuk ke dalam kenya puri. Kenya itu artinya wadah, puri yaitu artinya keraton.


Keraton mana yang menjadi pembuka? Keraton …… yang dipakai pembuka. Dasar negara panjang punjung pasir wukir loh jinawi. Panjang itu banyak dibicarakan, punjung itu luhur wibawanya, pasir itu samudra, wukir yaitu gunung, loh jinawi artinya kaya, tak kurang sandang dan pangan, intan berlian.


Siapa yang menjadi raja? Sang raja duduk di kursi gading gilang kencana bermahkota binokasri bertatahkan permata. Memakai gelung gono, gelung gongsor, kelat bahu kempal dada, menyandang keris kiai Jagapati, pendok berukir ketumbar semebar, amar-amarannya sutra kuning, sutra putih, sutra hitam, sutra merah, dodot gresik wayang.


Orang mendalang itu dora sembada, dora itu bohong, sembada itu pantas. Apa sebabnya menjadi pantas? Ada buktinya. Apa buktinya? Adanya wayang purwa. Wayang itu artinya bayangan, purwa itu permulaan. Hanya mengikuti alur terdahulu, merunut jejak lama, orang tua memulai, orang muda hanya melakukan.


Hanya bedanya wayang dahulu kala diganti dengan golek. Apa artinya istilah golek, disenggol matinya tergeletak, mendongkol matanya melek. Tapi kata golek menurut bahasa Jawa artinya cari. Cari apanya, cari asal-usulnya, sebab golek itu tidak berbeda dengan manusia. Hus gegabah golek sampai disamakan dengan manusia. Bukankah golek itu kayu, diukir, dicet menjadi boneka. Kenapa boneka bisa bicara sendiri dan hidup? Golek itu usik tanpa usik, gerak tanpa gerak, karena golek dibicarakannya itu oleh dalang. Tidak merasa menjadi dalang, merasa juga mendalang, mendalangkan. Mendalangkan apa? Mendalangkan katanya. Pembaca mau mencari hiburan, lumayan daripada ngantuk.


Gunung tanpa lereng tiada kera hitamnya. Yang panjang dibuat pendek, yang pendek diputuskan, sebat kang genjotan.

Nyandra dalam lakonet dimodifikasi ke dalam bentuk pendek seperti di bawah ini.

MERCUKUNDA, SURALAYA.—Sang Hyang Pramesti Guru Jagatnata, ya Sang Hyang Otipati Penguasa Jagat Triloka, duduk di atas singgasana Kursi Gading Gilang Kencana, dihadap para dewa, para batara, para sang hyang, para bidadara, para hapsara seluruh warga Sorgaloka.

Dan di bawah ini adalah contoh yang lebih pendek lagi.

ASTINA.—Para Kurawa pada bicara bersama Jendral Baladewa, Presiden Mandura, membahas masalah petaka negara.

2. Contoh Pocapan

Pocapan adalah nyandra yang tidak diiringi gamelan untuk menceritakan peristiwa dalam adegan. Di bawah ini adalah contoh pocapan dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya:

Padmanegara nyandak dua hulusapu bade dicipta ku Kresna. Atuh Kresna rep sidakep ana sinuku tunggal babakane caturdriya--catur papat, driya angen-angen, sir budi cipta kalawan rasa. Pangambung teu diangge ngangse; soca teu diangge ningal; cepil teu diangge ngarungu; baham teu diangge ngucap lir ibarat anu paeh ngadeg, nanging bentena pedah ngangge ambegan.

Dalam lakonet, pocapan juga dimodifikasi kedalam bentuk yang pendek dan bahkan menyerupai baris-baris puisi. Di bawah ini adalah contoh-contohnya.

Siapsiaga para dewa
Basmi mala Triloka!

Dan di bawah ini sebuah contoh pocapan puitis.

Berang! Garang!
Buta menyerang!

C. Suluk

Suluk adalah citra yang dinyanyikan oleh ki dalang dalam pakeliran wayang. Di bawah ini adalah contoh suluk pedalangan Jawa Barat dari lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung sutarya.

Contoh 1

Saur nira tandana panjang
Sinenggih sabda ya uninga lawan
Sabda ya uninga lawan
Sauri nira tandana panjang sinengih
Sabda uninga
wis mama
Ulun layu dening sekti ala bakti dening asih
Ya ding asih
Wong asih ora katara

video

Contoh 2

Betet ijo Kepodang ulese kuning
Abang manuke wulung kadya wowor
Sandang rawit puter gemeke ya lurik-lurik
Dadanira kinuwungan ya kinuwungan
Kadya bocah ngangge kakalung
Ningsor waringin wulung

video

Contoh 3

Sri tinon ing pasewakan
Busana manekawarna

Murub mubyar cahayanira

Kadya kunang-kunangan
Sri tinon ing pasewakan
Busana manekawarna
Murub mubyar socanira
Kadya parada tinabur
Kadya kunang-kunangan
Sekar wijaya kusuma lawan

video

Dalam lakonet, suluk dimodifikasi kedalam bentuk sajak couplet. Berikut ini adalah contoh suluk dalam lakonet Ki Harsono Siswocarito.

Siaptegap sang Dursasana
Panglima pasukan Astina!

Kurawa menyerbu kampus
Mahasiswa bikin mampus

D. Antawacana


Antawacana adalah dialog antartokoh wayang. Sedangkan antawacana antara tokoh wayang dengan nayaga, wirasuara, atau juru kawih dinamakan dialog samping (aside). Antawacana biasanya disampaikan setelah pocapan. Di bawah ini contoh dialog dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya:

KRESNA: Eladalah, Yayi, Yayi Setiaki.

SETIAKI: Kaula nun.

KRESNA: Kakang Patih Udawa.

UDAWA: Lo, lo, lo, Hahahah… pun kakang Patih Udawa.

KRESNA: Marajeng ka payun calikna.

SETIAKI: Ti payun anu kapihatur pun rayi nyanggakeun sembah pangabakti mugiya ditampi.

KRESNA: Sembah Rayi ditampi kudua panangan kiwa kalawan tengen, disimpen di luhur dina embun-embunan, di handap dina pangkonan, dicatet dina tungtung emutan anu teu keuna kuowah gingsir.

SETIAKI: Ngahaturkeun nuhun. Kalih perkawisna—

KRESNA: Kumaha, Yayi?

SETIAKI: Bilih aya kalepatan ageng sumawanten alit, agung cukup lumur, neda jembar hapunten anu diteda.

KRESNA: Perkawis kalepatan sok bujeng ku aya basana menta dihampura, sanaos teu aya basana akang parantos jadi lautan hampura kana kalepatan sampean, Yayi.

SETIAKI: Ngahaturkeun nuhun.

Di bawah ini adalah contoh antawacana dalam lakonet.

Bima: Para Profesor yang terhormat! Apakah saudara-saudara menyesalkan tindakan pasukan Kurawa?

Kanetra: Tentu! Tapi anggap saja itu dagelan. Toh kita mampu mempertahankan diri.

Pulasia: Huahaha… benar! Serbuan itu tiada arti bagi biomacrobot karya rekayasaku.

Estibanda: Pun jua monsterobot masa depan mampu memporakporandakan itu pasukan.

Maningrat: Dasar Kurawa! Wayang picisan begitu rupa berani jual gaya. Berlaga! Khhkcuah!

Maruta: Perlu dikasih pelajaran, Prof! Biar nyaho!

Baruna: Betul! Emangnya ilmu pengetahuan cuma ada di Universitas Negeri Sokalima, teknologi cuma ada di Universitas Talkanda? Sombong!

Bima: Baiklah! Tindakan militer Astina perlu dituntut. Siapkan pasukan tempur biomacrobot dan monsterobot buat menyerbu Astina.

Pulasia: Baik!

Estibanda: OK!

E. Sabetan


Sabetan adalah gerak wayang yang meliputi tarian, lakuan, dan lagaan. Tarian adalah gerak wayang yang diiringan nyanyian dan gamelan. Lakuan adalah gerak wayang yang hanya diiringan kecrek atau kendang. Sedangkan lagaan adalah gerak wayang dalam peperangan baik dengan iringan gamelan maupun hanya diiringi kecrek dan kendang. Dalam lakonet, sabetan ditampilkan dengan adegan action.

RIMBAMALA.—Mintaraga aduyuda dengan bala Manimantaka.

“B-brenti! Siapa lo?”

“Gong, embat aja yo!”

“Siplah!”—(Duk! Bugh!) Ambruk-takluk (Blug! Gludug!)—“Nih rasain! Hih!”—(Jplak! Gdubrak!)—“Aaawww!”

“Bah! Keparat! Kaladurga, Kaladurjana, Kaladuraksa, Kaladurmala, Kalastuwila, Kaladaksa, Kaladarba, Kalagarba, Kaladuskerta, Kaladusta, Kaladursila—majuserbu!”

“Reng, embat granat!” + “Okelah!”—(Plas!)

(BLAARR!)

F. Suara


Suara dapat berupa teriakan, jeritan, aduhan, tobatan, atau bunyi tiruan yang berupa onomatopia. Suara merupakan pelengkap sabetan lagaan. Di bawah ini adalah suara yang diambil dari lakonet Ki Harsono Siswocarito:

“E-e-babo-babo… Gog—ada p-penjelajah r-rimba Pringgadingacala. S-siapa, Gog?

“Sst! Jendral Arjuna!”

“E-e-babo-babo… s-serbu!”—(Clap!)—“C-ciaat!”—(Dez! Zplak! Deb! Bugh!)—“Hugk-khoeekh uhuooo… m-mati a-aku, Gog!”—(Bruk!)

“Cakil mati, Lung!”

“Biarin saja, Gog!”

“Grr-babo-babo, keparat! Hadapi aku Dityakala Badaisegara! Heh, konco-konco: Pragalba, Rambut Geni, Padas Gempal, Jurangrawah, Buta Ijo, Buta Terong, Buta Endog—ayo keroyok si perwira keparat itu!”

C’mon!” + “OK!” + “Move!

“Satu, dua, tiga! Ciat! Ciat! Ciiaatt!”—(Blaarr!)—“Aduh! Ahk! Khk! Klk!”—(Blug! Blug! Blug!)

“Zuilah! Mampuz zemua!” + “Benal! Ayo lali, Mas!”

(Jleg!)—“Brenti!”

“Ziapa lu? O yez! Kenalin—gue Mr George! Yez, Mr Joz!”

“Busyet! Keren juga nih Buto—pake nama beken segala! Elu kalah, Reng.”

“Em… lu siape, Pelo?”

“Mistel Gabliel! Ayo pelgi ah! Usah ngulusin olang tak kaluan!”—(Bugh! Bugh!)—“Adow! Main pelmak lagi! Blantem-blantem, tapi spoltif! Ngawul’u!”

(Dor-dor!)—“Beres, Gong!”

G. Tembang


Tembang adalah nyanyian yang dilantunkan oleh pesinden, wirasuara, atau dalang. Tembang pembuka pakeliran dilantunkan olen pesinden. Tembang pengiring pakeliran dilantunkan oleh pesinden dan wirasuara. Tembang dalam adegan Limbukan dan Gara-gara dilantunkan oleh dalang yang berkolaborasi dengan pesinden atau bintang tamu. Di bawah ini adalh tembang pembuka dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya dari pedalangan Jawa Barat.

Sampurasun dulur-dulur
Nu aya di pilemburan
Wilujeng patepang dangu
Ti abdi saparakanca
Ti abdi saparakanca
Gamelan Munggul Pawenang
Nyanggakeun hiburanana, Juragan
La mugiya janten panglipur
Pangbeberah duh kana manah

video

Sedangkan tembang berikut ini adalah yang dinyanyikan oleh dalang Dede Amung Sutarya dalam lakon Jaya Renyuan:

"Lagu Nu Ngusep"

Barung herang liar mijah
Clom kiriwil ari anclom ngagiriwil
Mawa epan rupa-rupa
Clom kurunyud lamun anclom sok ngurunyud
Plung kecemplung plung kecemplung
Empan teuleum kukumbul ambul-ambulan
Kenur manteng jeujeur jeceng
Leungeun lempeng panon mah naksir nu mandi
Kop tah lauk mere dahareun
Mangga mangga mangga geura tuang
Geura raos ditanggung deudeuieun
Mangga mangga ulah isin-isin
Empan cangkilu ungkul dilangkung
Empan papatong kalah dipelong
Ku epan colek kalah ngadelek
Lekcom lekcom panon belek nyambel oncom

video

Dalam lakonet Ki harsono Siswocarito terdapat tembang yang dilantunkan oleh Panakawan dari lagu Asmarandana Sunda.

Gandasari buah ati
Pujaan urang sadaya
Buku pinuh kupapaes
Alus jadi patamanan

Dan di juga mengutip serta memodifikasi dua baris lirik lagu dari Rolling Stones.

Yu yus tu bi mai parti dol
Bat now yu sey de parti’s oper

Lirik aslinya adalah:

You used to be my party doll
But now you say the party's over

H. Mantra


Mantra atau sastra mantra pedalangan ada dua kategori. Pertama, mantra yang berupa doa ki dalang dalam penyelenggaraan pakeliran. Kedua, mantra yang berupa rapalan tokoh wayang dalam mengeluarkan kesaktiannya.


Contoh pertama berupa mantra pembuka pakeliran dari Mpu Tan Akung:

Ingsun Angidhepa Sang Hyang Guru Reka,

Kamatantra: swaranku manikastagina.

Contoh kedua berupa rapalan mantra penyirepan oleh tokoh wayang Indrajit:

Rep sirep si Megananda

Wong sarewu padha tumut

Salaksa wong serah nyawa

I. Lakon


Lakon dalam lakonet berasal dari cerita-cerita wayang yang dapat diklasifikasikan ke dalam cerita pakem, carangan, gubahan, and sempalan. Cerita pakem berasal dari Mahabarata, Ramayana, Serat Paramayoga, Serat Pustaka Rajapurwa, Serat Purwakandha, dll. Cerita carangan adalah versi cerita pakem yang sudah dimodifikasi oleh ki dalang. Cerita gubahan adalah versi cerita yang diadaptasi. Cerita sempalan adalah cerita wayang kreasi baru.


Unsur pendukung


Selain unsur-unsur sastra pedalangan di atas, lakonet memiliki unsur-unsur pendukung yang berupa citra, hiperteks, dan cyberteks.


Citra adalah gambar yang digunakan untuk ilustrasi sebagai unsur pendukung lakonet. Citra untuk ilustrasi lakonet menggunakan wayang digital, yaitu gambar wayang yang dibuat dengan menggunakan teknik seni lukis digital. Dengan mengacu pada konsep estetika layarmaya, wayang digital dibuat berkebalikan dengan wayang cetak. Layarmaya menggunakan latar hitam, sedangkan wayang cetak menggunakan latar putih. Sehingga wayang digital yang tampil dalam lakonet adalah bayangan putih dalam latar hitam. Hal ini berbeda dengan wayang cetak yang menampilkan bayangan hitam dalam latar putih. Begitu pula bayangan hitam dalam wayang kulit yang menggunakan kelir putih.


Hiperteks dalam lakonet berupa link internal dan link eksternal. Penggunaan link inilah yang membedakan teks dengan hiperteks. Hipertekstualisasi merupakan proses mediamorfosis dari teks tulis menjadi hiperteks elektronik.


Cyberteks dalam lakonet merupakan wahana interaktif antara hyperteks-tualisasi yang dilakukan oleh ki dalangmaya dengan komunitasmaya dalam duniamaya. Interaktivitas ini memperikan peluang kepada semua netizen dalam komunitasmaya untuk berinteraksi secara aktif.


Simpulan


Sastra Pedalangan memiliki beragam gaya. Hal ini menunjukkan adanya pluralitas gaya dalam tradisi pedalangan Indonesia, seperti pedalangan gaya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Banjar, dll.


Dengan menerapkan konsep estetik yang merupakan tegangan antara tradisi dan inovasi inilah lakonet menjadi sebuah genre wayang posmodern yang menggunakan Internet sebagai media pertunjukan dan publikasinya.


Semarang, 10 Mei 2008

Referensi

Harghana SW, Bondhan. 2003. Janturan Jangkep Wayang Purwo. Sukoharjo-Surakarta: Cendrawasih.

Haryanto, s. 1992. Bayang-bayang Adhiluhung. Semarang: Dahara Prize.

Sukatno, Anom. 1993. Janturan lan Pocapan Ringgit Purwo. Sukoharjo-Surakarta: Cendrawasih.

Sutarya, Dede Amung. 1977. Jaya Renyuan. Indonesia: Gita Record Metropolitan.

Timoer, Soenarto.1988. Serat Wewaton Padhalangan Jawi Wetanan II. Jakarta: Balai Pustaka.

Wednesday, June 10, 2009

Sastra Pedalangan

I. Pendahuluan

Sastra pedalangan tampaknya belum masuk dalam sebuah entri tersendiri dalam kamus sastra baik Indonesia maupun Jawa. Tampaknya istilah seni pedalangan lebih lazim dikenal dalam perbendaharaan kamus tersebut. Akan tetapi, sastra pedalangan berbeda dengan seni pedalangan. Sastra pedalangan lebih mengacu pada rekabahasa dalang; sedangkan seni pedalangan mengacu pada dramaturgi atau seni pertunjukan wayang.

Sastra pedalangan juga berbeda dengan sastra pewayangan. Perbedaan tersebut tampak pada sastra pewayangan yang lebih mengacu pada cerita-cerita wayang, sedangkan sastra pedalangan lebih mengacu pada lakon-lakon garapan dalang dalam seni pertunjukan wayang.

II. Metodologi

Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian pustaka dengan menggunakan wayang audio berjudul Jaya Renyuan garapan ki dalang Dede Amung Sutarya. Data diperoleh dengan mendengarkan kaset tersebut dan melakukan transkripsi pada unsur-unsur yang dibahas. Kemudian data tersebut dikaji dengan mengacu pada referensi tentang sastra pewayangan dan seni pedalangan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

III. Pembahasan

Sastra pedalangan adalah rekabahasa dalang dalam seni pertunjukan wayang. Sastra pedalangan terdiri dari murwa atau pelungan (suluk pembuka pedalangan), nyandra janturan (deskripsi jejer adegan pertama) dan pocapan (narasi adegan), suluk (puisi padalangan), antawacana (dialog wayang), sabetan (bahasa tubuh wayang), suara (bunyi, celotehan, dan onomatopi), tembang (nyanyian), mantra (puisi magis), dan lakon (cerita wayang).

A. Murwa

Murwa adalah suluk pembuka dalam pertunjukan wayang. Pedalangan Jawa Timur menggunakan istilah pelungan; pedalangan Jawa Tengah menggunakan istilah ilahengan; dan pedalangan Jawa Barat menggunakan istilah murwa. Di bawah ini adalah contoh murwa pendek pedalangan Jawa Barat.

Kembang sungsang binang kunang

Cahaya nira kadya gilang gumilang

Murwa panjang di bawah ini dari pedalangan Jawa Barat.

Adam adam babuh lawan
Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya
Dangiang wayang wayanganipun

Perlambang alam sadaya

Semar sana ya danar guling
Basa sem pangangen-angen
Mareng ngemaraken Dzat Kang Maha Tunggal
Wayang agung wineja wayang tunggal
Wayang tunggal

Versi audio murwa di atas adalah seperti tertera di bawah ini.

video

B. Nyandra

Nyandra adalah deskripsi adegan dengan menggunakan bahasa prosa dalam per-tunjukan wayang. Terdapat dua jenis nyandra: janturan dan pocapan. Janturan adalah deskripsi adegan dengan iringan gamelan; dan pocapan adalah narasi adegan tanpa iringan gamelan.

1. Contoh Janturan

Suh rep data pitana! anenggih wau kocapa negara ing pundi ingkang kaeka adi dasa nama purwa, eka sawiji adi linuwih dasa sapuluh nama iku panjenengan purwa nami wiwitan. Sandyan katah titahing dewa kasongan ing akasa, sinangga ing pertiwi, kaideng ing samudra, tebih ing parang muka, dasar negara Dwarawati silokane jero tancebe, jembar laladane, gede obore, duwur kukuse, padang jagate, adoh kakoncarane. Sigeg ingkang murweng kawi paparab kang dadi nalendra, inggih kang ngarenggani pura, jejeneng Sri Maha Batara Kresna ya Prabu Jenggalamanik, Prabu Harimurti, Prabu Padmanaba, Prabu Basudewaputra, saweg dipunadep dening ingkang rayi Arya Setiyaki lan ingkang raka Patih Udawa. Sreg tumeluk kaya kuncim pertala mukanipun sarta kadiya tata malih krama paningalipun Padmanegara lan Udawa saking ajrih dateng pangkonan. Samya prapta ngabiyantara, jajar denira pinara.

Dan di bawah ini contoh janturan adegan berikutnya.

Nyariosaken wontening pasanggrahan Randuwatangan. Prabu Darmakusuma, Bratasena, Arjuna, Nakula lan Sadewa, teu kakantun para pahlawan, Drestajumena, Bangbang Irawan, Raden Pancawala, Raden Sumitra, teu kakantun para tamtama, bintara, parantos siap siaga ngantos dawuhan Sri Mahabatara Kresna. Satumbakna, sagadana, sapedangna, sapanahna, samapta parabot perang teu kakantun.

2. Contoh Pocapan

Pocapan adalah nyandra yang tidak diiringi gamelan untuk menceritakan peristiwa dalam adegan. Di bawah ini adalah contoh pocapan dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya:

Padmanegara nyandak dua hulusapu bade dicipta ku Kresna. Atuh Kresna rep sidakep ana sinuku tunggal babakane caturdriya--catur papat, driya angen-angen, sir budi cipta kalawan rasa. Pangambung teu diangge ngangse; soca teu diangge ningal; cepil teu diangge ngarungu; baham teu diangge ngucap lir ibarat anu paeh ngadeg, nanging bentena pedah ngangge ambegan.

Nanging tadige manggahing nu Mahakawasa teu weleh nganter ka manusa rek hade rek goreng asal tanggel jawab dirina pribadi. Maksudna diduluran, maksadna diijabah. Ilang dua hulu sapu, janggelek dados ponggawa, anu hiji dados satria.

Dan di bawah ini contoh pocapan penutup adegan yang sekaligus sebagai pengantar ke adegan berikutnya.

Kebat! Sri Mahabatara Kresna kaliyan ingkang rayi Padmanegara samadia tumindak dateng pasanggrahan Randuwatangan.

C. Suluk

Suluk adalah citra yang dinyanyikan oleh ki dalang dalam pakeliran wayang. Di bawah ini adalah contoh suluk dari pedalangan Jawa Barat.

Saur nira tandana panjang
Sinenggih sabda ya uninga lawan
Sabda ya uninga lawan
Sauri nira tandana panjang sinengih
Sabda uninga
wis mama
Ulun layu dening sekti ala bakti dening asih
Ya dening asih
Wong asih ora katara

Dan di bawah ini adalah contoh suluk “Greget Saut”.

Murca sekarang wawang
Murca ya sekarang wawang
Swala salin busana
Murca sekarang wawang
Swala salin busana
Murub mubyar cahayanira
Kadia prada tinabur
Kadia kunang-kunangan
Kunang-kunangan

D. Antawacana

Antawacana adalah dialog antartokoh wayang. Sedangkan antawacana antara tokoh wayang dengan nayaga, wirasuara, atau juru kawih dinamakan dialog samping (aside). Antawacana biasanya disampaikan setelah pocapan. Di bawah ini contoh dialog dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya.

Kresna: Eladalah, Yayi, Yayi Setiaki.

Setiaki: Kaula nun.

Kresna: Kakang Patih Udawa.

Udawa: Lo, lo, lo, Hahahah… pun kakang Patih Udawa.

Kresna: Marajeng ka payun calikna.

Setiaki: Ti payun anu kapihatur pun rayi nyanggakeun sembah pangabakti mugiya ditampi.

Kresna: Sembah Rayi ditampi kudua panangan kiwa kalawan tengen, disimpen di luhur dina embun-embunan, di handap dina pang-konan, dicatet dina tungtung emutan anu teu keuna kuowah gingsir.

Setiaki: Ngahaturkeun nuhun. Kalih perkawisna—

Kresna: Kumaha, Yayi?

Setiaki: Bilih aya kalepatan ageng sumawanten alit, agung cukup lumur, neda jembar hapunten anu diteda.

Kresna: Perkawis kalepatan sok bujeng ku aya basana menta dihampura, sanaos teu aya basana akang parantos jadi lautan hampura kana kalepatan sampean, Yayi.

Setiaki: Ngahaturkeun nuhun.

E. Sabetan

Sabetan adalah gerak wayang yang meliputi tarian, lakuan, dan lagaan. Tarian adalah gerak wayang yang diiringi nyanyian dan gamelan untuk memasuki atau keluar panggung, serta tarian-tarian Panakawan dalam adegan gara-gara. Lakuan adalah gerak wayang yang hanya diiringi kecrek atau kendang untuk menghidupkan aspek dramaturgi pedalangan. Sedangkan lagaan adalah gerak wayang dalam peperangan baik dengan iringan gamelan maupun hanya diiringi kecrek dan kendang.

F. Suara

Suara dapat berupa teriakan, jeritan, aduhan, tobatan, atau bunyi tiruan yang berupa onomatopia. Suara merupakan pelengkap sabetan lagaan.

G. Tembang

Tembang adalah nyanyian yang dilantunkan oleh pesinden, wirasuara, atau dalang. Tembang pembuka pakeliran dilantunkan olen pesinden. Tembang pengiring pakeliran dilantunkan oleh pesinden dan wirasuara. Tembang dalam adegan Limbukan dan Gara-gara dilantunkan oleh dalang yang berkolaborasi dengan pesinden atau bintang tamu. Di bawah ini adalah tembang pembuka dari pedalangan Jawa Barat:

Sampurasun dulur-dulur
Nu aya di pilemburan
Wilujeng patepang dangu
Ti abdi saparakanca
Ti abdi saparakanca
Gamelan Munggul Pawenang
Nyanggakeun hiburanana, Juragan
La mugiya janten panglipur
Pangbeberah duh kana manah

Sedangkan tembang berikut ini adalah yang dinyanyikan oleh dalang Dede Amung Sutarya dalam lakon Jaya Renyuan:

"Lagu Nu Ngusep"

Barung herang liar mijah
Clom kiriwil ari anclom ngagiriwil
Mawa epan rupa-rupa
Clom kurunyud lamun anclom sok ngurunyud
Plung kecemplung plung kecemplung
Empan teuleum kukumbul ambul-ambulan
Kenur manteng jeujeur jeceng
Leungeun lempeng panon mah naksir nu mandi
Kop tah lauk mere dahareun
Mangga mangga mangga geura tuang
Geura raos ditanggung deudeuieun
Mangga mangga ulah isin-isin
Empan cangkilu ungkul dilangkung
Empan papatong kalah dipelong
Ku epan colek kalah ngadelek
Lekcom lekcom panon belek nyambel oncom

Sedangkan di bawah ini adalah contoh tembang pengiring adegan.

Ngamumule kasenian,
Ngamumule kasenian
Ulah kur reresepan
Geuningan mah reresepan
Ngandung maksud, bapa, jeung tujuan
"Hmmmmmhh!"
Ngandung maksud jeung tujuan
Ngawujukeun deudeuh
Ngawujudkeun da persatuan
Urang saling mempertingi
Harkat darajatna seni
Pupujan nu sami sadayana mah
Geuningan sing sami-sami
"Deuh kaula nun rayi panjenengan Nakula."
Mun lepat silih dangdosan
Mun lepat silih dangdosan
Sangkan janten, dunungan
Sangkan janten sauyunan
"Rayi panjenengan Sadewa."
Tara pisan tara pisan kaawonan
Tara pisan kaawonan
Sing luyu mah geuningan
Sabilulungan
"Yayi! Bagjakeun pun kakang ti Dwarawati."
"Linggih Raka Batara."
Jungjung darajatna seni
Jungjung darajatna seni
Ku jalana hati nu murni
Persatuan persatuan ulah lali
Persatuan ulah lali kade masing
Kade kasilih kujunti
Mangga urang sasarengan
Majengken seni kagungan

H. Mantra

Mantra atau sastra mantra pedalangan ada dua kategori. Pertama, mantra yang berupa doa ki dalang dalam penyelenggaraan pakeliran. Kedua, mantra yang berupa rapalan tokoh wayang dalam mengeluarkan kesaktiannya.

Contoh pertama berupa mantra pembuka pakeliran dari Mpu Tan Akung:

Ingsun Angidhepa Sang Hyang Guru Reka,

Kamatantra: swaranku manikastagina.

Contoh kedua berupa rapalan mantra penyirepan oleh tokoh wayang Indrajit:

Rep sirep si Megananda

Wong sarewu padha tumut

Salaksa wong serah nyawa

Sastra mantra dalam pedalangan terutama banyak digunakan dalam pergelaran ritual ruwatan.


I. Lakon

Lakon dalam lakonet berasal dari cerita-cerita wayang yang dapat diklasifikasikan ke dalam cerita pakem, carangan, gubahan, and sempalan. Cerita pakem berasal dari Mahabarata, Ramayana, Serat Paramayoga, Serat Pustaka Rajapurwa, Serat Purwakandha, dll. Cerita carangan adalah versi cerita pakem yang sudah dimodifikasi oleh ki dalang. Cerita gubahan adalah versi cerita yang diadaptasi. Cerita sempalan adalah cerita wayang kreasi baru.

IV. Simpulan

Sastra pedalangan sebagai bagian dari seni pedalangan merupakan rekabahasa dalang dalam seni pertunjukan wayang. Unsur-unsur sastra pedalangan terdiri dari suluk pembuka yang dengan istilah murwa, ilahengan, atau pelungan. Deskripsi jejer adegan pertama dikenal dengan istilah nyadra atau janturan, dan narasi adegan atau narasi peristiwa yang dikenal dengan istilah pocapan. Puisi pedalangan dikenal dengan istilah suluk yang berupa greget saut, sendon, dan ada-ada. Dialog wayang dikenal dengan istilah antawacana, catur, atau ginem. Bahasa tubuh wayang dikenal dengan istlah sabetan yang meliputi tarian, lakuan dan lagaan. Suara meliputi bunyi, celotehan, dan onomatopi. Tembang atau nyanyian baik yang dilakukan oleh dalang, pesinden, wiraswara, maupun bintang tamu. Puisi magis atau sastra mantra pedalangan. Dan lakon atau cerita wayang.

References

Haryanto, s. 1992. Bayang-bayang Adhiluhung. Semarang: Dahara Prize.

Prabowo, Dhanu Priyo, dkk. 2007. Glosarium Istilah Sastra Jawa. Jakarta: PT Buku Kita.

Purwadi. 1994. Karno Tandhing. Solo: Amigo.

Sukatno, Anom. 1993. Janturan lan Pocapan Ringgit Purwo. Sukoharjo-Surakarta: Cendrawasih.

Susetya, Wawan. 2007. Dhalang, Wayang dan Gamelan. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Sutarya, Dede Amung. 1977. Jaya Renyuan. Indonesia: Gita Record Metropolitan.

Timoer, Soenarto.1988. Serat Wewaton Padhalangan Jawi Wetanan II. Jakarta: Balai Pustaka.